Kontribusi Muslimah dalam Mihwar Daulah

Kontribusi Muslimah dalam Mihwar Daulah
Penulis: Sumaryatin Zarkasyi
Kode Produk: 9786028237611
Poin Hadiah: 0
Ketersediaan: Stok ada
Rp.30.000 Rp.12.000
Ingin diskon lebih? ikuti program dropship
Qty:  Beli
   - atau -   
Sejak dakwah Islam lahir pada tahun pertama kenabian, sejak saat itu pulalah peran muslimah dimulai. Maka kita pun mendapatkan hadits kedua Imam Bukhari menjadi bukti kontribusi pertama muslimah dalam dakwah. Saat Rasulullah tiba di rumah dari gua Hira dengan pengalaman spiritualnya yang luar biasa, beliau masih dalam ketakutan. Satu hal yang wajar sebab beliau baru saja bertemu dengan makhluk yang tidak biasa beliau lihat. Lebih dari itu beliau mendapatkan tanggungjawab besar sebagai nabi.
 
Dalam kondisi seperti itulah beliau berkata: "Zammilunii... zammilunii..." (Selimuti aku, selimut aku..). Khadijah mengerti. Ia melakukan perannya. Ia wanita pertama yang telah berhasil menyemaikan dakwah yang saat itu baru mengecambah agar tetap bertumbuh. Maka Khadijah tidak hanya menyelimuti Rasulullah agar kondisi fisiknya membaik. Lebih dari itu Khadijah memotivasi sang suami agar yakin bahwa tidak ada hal yang salah pada dirinya. "Jangan takut, demi Allah, Tuhan tidak akan membinasakan engkau. Engkau selalu menyambung tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran." Begitu pandainya Khadijah meyakinkan.
 
Tidak berhenti di situ. Khadijah juga membawa Rasulullah kepada pamannya. Waraqah sang ahli kitab. Dari sanalah keyakinan keduanya semakin mantab. Ya, Muhammad telah menjadi Nabi. Maka sejak saat itu sejarah dakwah ditulis. Namun ia telah ditulis dengan adanya peran muslimah. Khadijah yang pertama kali percaya dan menjadi muslimah. Khadijah ummul mukminin yang memberikan langkah awal dan teladan pertama bagi kiprah muslimah berikutnya.
 
Kini kita hidup di era yang berbeda. Sejarah dakwah telah berusia lebih dari empat belas abad sejak muslimah pertama berperan menyokongnya. Kita kini hidup di abad modern yang memiliki karakteristik zamannya sendiri. Banyak hal yang telah berubah. Bahkan dakwah di masa modern ini pun telah disusun sedemikian rupa dalam berbagai orbit atau mihwar-nya. Sejak mihwar tandzimi, mihwar sya'bi, mihwar muassasi, dan mihwar daulah yang tengah disambut dengan berbagai persiapan dan strategi. Banyak hal yang berubah. Namun tetap ada yang harus "abadi". Diantaranya adalah kontribusi muslimah.
 
Ya, peran muslimah tidak boleh berhenti. Apapun mihwarnya, di sana ada dan butuh peran muslimah. Apapun zamannya, dakwah tetap menghajatkan kontribusi muslimah. Pun dalam mihwar daulah nanti. Buku Kontribusi Muslimah dalam Mihwar Daulah ini akan menjadi peta jalan (roadmap) bagi para aktifis dakwah muslimah dalam memberikan kontribusi terbaiknya di mihwar daulah.
 
Memahami Realitas Muslimah
Hal pertama yang perlu dilakukan aktifis dakwah muslimah adalah introspeksi. Introspeksi nasib kaumnya. Memahami realitas muslimah. Realitas muslimah sebagai pribadi, dalam keluarga, dan realitas masyarakatnya. Secara jujur kita akan menemukan kata kunci untuk menggambarkan realitas muslimah masa kini: lemah!
 
Sebagai pribadi, banyak muslimah di negeri ini yang masih mengalami kekeringan jiwa, tidak memahami tujuan penciptaannya, dan dilanda keputusasaan. Pendek kata, mereka masih jauh dari Islam. Disebutkan satu contoh dalam buku ini, ketika Yusuf Islam (Dulu Cat Steven) memberikan ceramah di Jakarta pada tahun 90-an, ia tidak menyangka kalau negeri ini adalah berpenduduk mayoritas muslim. Ini karena di jalan-jalan yang dilaluinya yang ia temukan justru wanita-wanita yang tidak menutup aurat.
 
Realitas keluarga di Indonesia tidak jauh berbeda dari kondisi di atas. Secara ekonomi banyak keluarga yang miskin secara ekonomi dan bodoh secara pendidikan. Keduanya lalu dipertahankan oleh keluarga-keluarga baru yang terbentuk tanpa kesiapan yang memadai. Tidak siap membangun keluarga, juga tidak siap mendidik anak-anak yang lahir nantinya. Maka kemiskinan, kebodohan, ketidaksiapan itu seperti telah menjadi lingkaran setan yang sulit diputuskan.
 
Lalu masyarakat. Ia juga tidak lebih baik dari keduanya. Karena pada dasarnya masyarakat adalah bangunan besar dari keluarga-keluarga yang tentu saja terdiri dari individu-individu. Diantaranya adalah muslimah, yang bahkan menjadi unsur terbesar pembentuk masyarakat. Realitasnya, masyarakat kita saat ini telah terserang berbagai penyakit. Mulai dari individualisme, hedonisme, sekuler, sampai pornografi.
 
Realitas yang demikian, bagi aktifis dakwah muslimah, seharusnya menjadi pemicu dan tantangan tersendiri untuk meningkatkan kontribusinya dalam memperjuangkan Islam. Realitas ini -yang jika dipahami dengan baik- akan mendorong semakin kuatnya azzam untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Akan menjadi landasan mengapa muslimah harus berkontribusi, terutama di mihwar daulah nanti.
 
Peran Muslimah di Semua Maratibul Amal
Islam merupakan din yang syamil mutakamil. Ia melingkupi seluruh aspek kehidupan. Maka kita akan mendapatkan bahwa dalam setiap aspek kehidupan ini Islam telah menyediakan aturannya; ada yang bersifat umum ada yang detail. Pada saat Islam diaplikasikan dalam segala aspek kehidupan itulah maka peradaban Islam yang gemilang akan terwujud.
 
Sementara kini, dakwah tengah berjalan menuju ke sana. Ada banyak konsep dalam tiap gerakan dakwah yang ditawarkan lalu menjadi manhaj perjuangannya masing-masing. Namun, kebertahapan adalah sebuah sunnatullah yang bisa didapatkan intisarinya dalam Al-Qur'an dan hadits. Mungkin pencapaiannya akan terasa lama. Tetapi inilah cara yang efektif dan ditemukan dari dua pusaka Islam tersebut. Formulasi tahapan perjuangan seperti ini disebut Hasan Al-Banna sebagai maratibul amal. Seperti contoh yang diberikan Khadijah dalam permulaan dakwah, aktifis dakwah muslimah di era sekarang pun tidak boleh berdiam diri. Ia harus ambil bagian dalam semua maratibul amal. Muslimah harus berperan.
 
Pada Islahun Nafsi atau perbaikan diri sendiri akhwat muslimah harus serius dalam melakukan siyasatun nafs. Yaitu bagaimana agar unsur dalam diri dapat mengendalikan unsur dalam diri lainnya. Potensi taqwa mengendalikan potensi fujur. Potensi kebaikan mengalahkan potensi keburukan. Lalu ia berkontribusi dalam upaya memperbanyak muslimah lain melakukan ishlahun nafsi pula dengan cara : pertama, menjadikan diri sebagai teladan. Kedua, menginspirasi orang-orang terdekat, baik keluarga, saudara, sahabat atau teman untuk melakukan ishlahun nafsi. Ketiga, Berusaha tetap istiqamah dalam memperbaiki dirinya dan mengajak orang terdekat untuk melakukan hal yang sama. Proses ini harus terus dilakukan hingga kematian menghentikan.
 
Pada Takwin Bait al-Muslim, muslimah juga memiliki kontribusi. Ada istilah siyasatul usrah yang dipakai Sumaryatin Zarkasyi di sini. Bagaimana agar muslimah bisa mengatur rumah tangga, sementara suami tetap pemimpin dalam keluarga. Maka kontribusi muslimah mewujud dalam bentuk menjadi istri yang shalihah, menjadi anak yang shalihah bagi orang tuanya, menjadi ummi madrasah bagi anak-anaknya, yang mampu menjadi teladan bagi mereka serta menjalankan peran taurits (pewarisan), baik pewarisan ideologi, cita-cita, dan kebaikan.
 
Pada Irsyad Al-Mujtama', kontribusi muslimah yang perlu dilakukan adalah menjadi daiyah dengan pemahaman metode dan fiqih dakwah yang baik, berkhidmah melalui profesi dan keilmuan di bidangnya untuk kemajuan masyarakat, dan peduli serta terlibat dalam upaya penyelesaian problem-problem pokok masyarakat terdekat. Mungkin tidak semua akhwat muslimah berkesempatan melakukan semua kontribusi itu. Misalnya khidmah keilmuan dan profesi. Ini terutama bagi muslimah yang diamanahi profesi tertentu. Bukan berarti lalu muslimah yang "profesi"-nya sebagai ibu rumah tangga kurang kontributif. Bukan. Semua sesuai dengan level dan kemampuan masing-masing. Namun, dalam level apapun, akhwat muslimah harus mengukir tinta emas dalam kehidupannya.
 
Pada Tahrirul Wathan, akhwat muslimah bisa memberikan kontribusinya dalam bentuk pembelaan atas setiap jengkal tanah kaum muslimin yang terzalimi dan berkontribusi dalam mewujudkan kemerdekaan yang hakiki. Tentu dalam kontribusi ini tidak otomatis sama dengan peran ikhwan. Namun ia tetap memiliki komitmen dan kontribusi, sebagaimana muslimah Palestina yang menanamkan jiwa jihad dalam diri anak dan suaminya, bahkan ada sebagiannya yang turut langsung terjun ke medan jihad melawan penjajah Israel.
 
Pada Islahul Hukumah, akhwat muslimah pun perlu berkontribusi. Muslimah harus menggunakan hak-hak politiknya dalam memperbaiki pemerintahan. Apalagi fakta berbicara bahwa wanita adalah pemilih terbesar yang otomatis jumlah suaranya lebih menentukan siapa yang berhak menjadi pemerintah. Setingkat lebih tinggi dari itu adalah peran muslimah untuk turut melakukan tarbiyah siyasiyah dan advokasi kepada masyarakat agar sadar politik dan tergerak melakukan perbaikan. Lebih besar lagi tanggungjawabnya di bidang ini, adalah ketika muslimah berperan aktif dalam ranah publik dan politik. Tentu ini membutuhkan kesiapan yang lebih besar pula.
 
Pada Siyasatu Ad-Daulah, ada dua kaidah penting yang dikemukakan Ikhwan. Pertama, prinsip umum emansipasi antara laki-laki dan perempuan, bahwa muslimah memiliki peran yang tidak bisa dilakukan laki-laki, baik itu dalam pengurusan rumah tangga maupun pendidikan anak. Sedangkan dalam politik, sebagaimana wanita bukanlah jenis kelamin di bawah laki-laki, ia pun memiliki hak politik yang setara, dan berhak menempati posisi sebagai legislatif dan jabatan-jabatan kepemimpinan tertentu. Maka dalam maratibul amal ini kontribusi muslimah bisa mewujud dalam kontribusi di berbagai organisasi dan lembaga profesi, birokrat, termasuk legislatif. Intinya, muslimah perlu berkontribusi semampunya, mengoptimalkan potensi-potensinya dengan tetap mengambil jalan keseimbangan dan keadilan bagi peran-perannya.
 
Lalu pada maratibul amal yang ketujuh, Ustadziyatu Al-Alam, muslimah pun tetap dituntut kontribusinya. Pada tahapan inilah ditegakkan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama ini hanya menjadi milik Allah.
 
Karakter Muslimah di Mihwar Daulah
Sumaryatin Zarkasyi dalam buku Kontribusi Muslimah dalam Mihwar Daulah ini menjelaskan Karakter Muslimah di Mihwar Daulah pada bab 3. Karakter itu ada 5: Pertama, Bertaqwa. Ini karakter umum yang mudah diuraikan karena memang harus ada dalam mihwar apapun, kapan pun, di manapun. Karakter kedua adalah sejahtera. Sejahtera di sini menyangkut aspek ekonomi, kemananan fisik dan kenyamanan psikologis.
 
Lalu cerdas. Karakter ketiga ini menuntut muslimah membekali akalnya dengan hakikat yang benar, makna hidup terbaik, dan pengetahuan yang benar. Akhwat muslimah juga harus membekali akal pikirannya dengan sejarah Islam dan berbagai pengetahuan modern.
 
Karakter keempat adalah berdaya. Sehingga muslimah bisa memberikan kemanfaatan kepada diri, keluarga, masyarakat dan negaranya secara seimbang. Karakter kelima, berbudaya. Yakni dengan mewarnai budaya yang sudah ada agar menjadi islami dan mengembangkan iklim bidaya yang lebih kondusif bagi muslimah untuk memuliakan harkat dan martabatnya.
 
Agenda-agenda yang Perlu Diperhatikan Gerakan Akhwat Muslimah
Pertama, agenda dakwah di kalangan muslimah yang harus terus ditingkatkan. Sarana-sarana diperluas, secara sistemik perlu upaya mengorganisir dakwah muslimah agar menjadi lebih produktif. Dakwah muslimah harus mampu menawarkan solusi dan tidak lagi bersifat monologis. Perlu ada upaya pemberdayaan muslimah untuk mencapai keadilan dan kesejehateraan dunia-akhirat.
 
Kedua, agenda perlindungan terhadap perempuan, anak, dan keluarga. Gerakan dakwah akhwat muslimah harus berupaya menghapuskan tingkat kemiskinan dan kelaparan, membawa seluruh anak-anak mencapai pendidikan dasar, memberdayakan perempuan, mengurangi tingkat kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, pemerataan kesejahteraan, pemerataan akses sumber daya, pemerataan penyadaran, dan pemerataan partisipasi aktif.
 
Akhirnya, semoga buku Kontribusi Muslimah dalam Mihwar Daulah karya Sumaryatin Zarkasyi yang merupakan buku ke-12 dari 100 Buku Pengokohan Tarbiyah ini bisa menjadi peta jalan muslimah sehingga dapat turut berkontribusi secara signifikan dalam upaya pergerakan dakwah menyongsong mihwar daulah. [Muchlisin]
 

Tulis review

Nama Anda:


Review Anda: Note: HTML is not translated!

Rating: Buruk            Baik

Masukkan kode dalam kotak di bawah ini:



Tags: Muslimah, Akhawat,