Kebangkitan Pos-Islamisme

Kebangkitan Pos-Islamisme

 

Ditulis oleh Eman Mulyatman (Sabili)

Perkembangan Islam dan politik di Turki menjadi fenomena yang sangat menarik akhir-akhir ini. Keberhasilan kelompok Islam untuk memengaruhi proses politik nasional setelah mewujud dalam partai politik yang dominan perlu mendapatkan perhatian khusus. Bukan saja karena kehadiran para aktivis Islam yang tergabung dalam AKP (Adalet ve Kalkinma Partisi) ini mampu mengurai persoalan pelik hubungan Islam dan negara, tetapi lebih dari itu, proses panjang gerakan Islam mampu masuk dalam mainstream politik Turki dengan ideologi sekuler paling kuat didunia ini juga patut menjadi bahan diskusi. Dibalik kesuksesan AKP dalam meraih dukungan politik yang kuat di Turki tentu memiliki banyak faktor yang saling berkaitan.
 
Buku yang ditulis oleh Ahmad Dzakirin ini mencoba untuk melihat sisi-sisi kemenangan kelompok “islamis” yang terlembaga melalui AKP dan pengaruh sosok Recep Tayyib Erdogan dalam mendongkrak popularitas partai. Tentu saja disamping karena didukung oleh kemampuan institusi dalam menggerakkan resources yang dimiliki (Resources Mobilization Theory) ditambah dengan tokoh fenomenal yang memiliki reputasi baik, dinamika sosial politik Turki berpengaruh dalam mengantarkan AKP mendapatkan momentum.
 
Interaksi antara sekularisme dan islamisme di Turki dalam bentuk oposisi dan koalisi sebenarnya terjadi dalam waktu yang sangat lama dan baru menampakkan hubungan yang lebih kondusif di era Erdogan. Di awali dari Necmettin Erbakan yang mendirikan partai Islam pertama dengan nama Milli Nizam Partisi-MNP (Partai Ketertiban Nasional) pada tanggal 26 Januari 1970. Gerakan yang dilakukan oleh kelompok islamis dalam bentuk partai ini merupakan bagian dari protes terhadap rezim sekuler yang korup dan otoriter. Meskipun partai ini kemudian dibubarkan oleh rezim militer, usaha Erbakan untuk terus menjadikan partai Islam sebagai kekuatan politik berpengaruh tidak pernah berhenti. Akhirnya, dengan partai Refah pada Pemilu 1996 dia berhasil mengantarkan partai berbasis Islam ini menjadi kekuatan dominan di pemerintahan. Hanya saja, hubungan antara kelompok Islam dan militer yang penjaga nilai-nilai sekularisme Turki masih diwarnai konflik dan saling mencurigai. Walaupun Erbakan berhasil meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan.